News of Day : Ikut Lawan Belanda, Tiarap saat Orde Lama

Paguyuban Tionghoa Menyongsong Imlek (10-Habis)

Hari ini semua keturunan Tionghoa bergembira merayakan Imlek. Namun, 47 tahun silam, saat Presiden Soeharto berkuasa selama 32 tahun, mereka hanya bisa berdiam diri di rumah masing-masing. Merayakan Imlek dengan sangat sederhana.

TAK ada pernik serba merah menggantung di langit-langit untuk memeriahkan suasana Imlek seperti saat ini. Semua serba kelabu, begitu kelam karena semua hal beraroma Tiongkok “diharamkan” pada rezim kekuasaan Presiden Soeharto. Paguyuban-paguyuban wadah berkumpul orang Tionghoa pun dibubarkan. Gedung dan seluruh aset milik mereka disita atas perintah penguasa negeri.

Tak kehabisan akal, sebagian orang Tionghoa yang merasa berkewarganegaraan Indonesia mendirikan sebuah perkumpulan tersendiri, Perhimpunan Dharma Bhakti namanya. Di bawah pimpinan Tan Tjong Siong alias Rachmad Ts Jonathan, pada 3 Oktober 1958, perhimpunan ini diresmikan, menggantikan Perhimpunan Chung Hua Hui yang lebih dulu berdiri sejak 31 Agustus 1936.

Perhimpunan Dharma Bhakti ini lah yang menjadi wadah berkumpulnya para warga Tionghoa. Meski demikian, seluruh kegiatan yang mereka lakukan murni kegiatan sosial, tanpa perayaan-perayaan khas tradisi Tiongkok.

Setelah kejayaan keluarga Cendana runtuh, perhimpunan ini semakin eksis. Berkaca dari pengalaman masa lalu, perhimpunan ini akhirnya mendaftarkan diri menjadi sebuah yayasan berbadan hukum agar seluruh kegiatannya sah di mata negara. Yayasan Dharma Bhakti pun lahir pada 28 Februari 1994.

Maslan Tanzi, ketua Yayasan Dharma Bhakti mengatakan, ada 11 paguyuban Tionghoa yang menyatakan diri bernaung dalam yayasan ini.

“Yayasan ini tidak ada anggotanya, kami hanya punya donator. Tapi seluruh pengurusnya orang-orang Tionghoa dan mengurusi orang Tionghoa juga,” kata Maslan saat ditemui Kaltim Post, Sabtu (9/1) lalu.

Dia menjelaskan, tujuan dibentuknya paguyuban adalah untuk menyatukan warga Tionghoa yang merantau jauh meninggalkan kampung halamannya. Maslan pun menceritakan beberapa kisah yang diturunkan sang ayah tentang para leluhurnya.

Termasuk suku Hok Hin, leluhur Maslan menyeberangi lautan luas dari Negeri Tirai Bambu menuju kawasan Asia Tenggara. Demi mendapat rasa aman dan penghidupan layak, mereka melarikan diri dari kampung halaman. Saat itu di kawasan Tiongkok sering terjadi perang berkepanjangan, keadaan ekonominya pun sangat susah. Berbekal kebutuhan seadanya serta keahlian yang dibawa dari lahir, mereka nekat mengarungi samudera dengan menumpang sebuah kapal sederhana dengan layar terkembang.

“Sebagian menumpang kapal uap milik orang Belanda, dulu mereka menyebutnya dengan kapal api,” kata Maslan.

Dia menceritakan kehidupan di kapal saat itu sangat jauh dari kata nyaman. Selembar tikar bambu digunakan sebagai alas tidur, bantalnya pun bukan bantal berisi kapas atau bulu angsa yang nyaman di kepala, tapi sebuah balok kayu yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi bantal.

Sampai di Bumi Etam pun mereka belum bisa bernapas lega. Perbedaan bahasa dan adat istiadat pun cukup membuat mereka kesulitan. “Namun, karena leluhur kami termasuk orang pandai bergaul dan beradaptasi kesulitan itu pelan-pelan bisa mereka atasi. Keahlian yang mereka miliki juga membantu untuk memulai kehidupan baru di sini. Banyak leluhur kami dari masing-masing suku dulunya menjadi tukang kayu, tukang gigi, ada tukang masak yang selalu bekerja dengan giat,” ujar Maslan.

Saat usaha-usaha yang mereka geluti mulai berkembang, Maslan menceritakan, orang-orang Tionghoa itu berkirim surat pada saudara nan jauh di sana, membawa kabar bahagia untuk ikut merantau ke Kalimantan, khususnya di Samarinda.

“Oleh sebab itu orang-orang Tionghoa banyak bermukim di sini. Tak hanya di Indonesia, di belahan bumi lainnya pun banyak orang Tionghoa. Karena di mana matahari bersinar, di situ kami ada,” jelasnya.

Anak kelima dari sembilan bersaudara ini juga menceritakan, saat para pejuang berperang merebut kemerdekaan, orang Tionghoa pun tak tinggal diam.

Sebagian tetua mereka dulunya adalah seorang veteran yang pernah berjibaku melawan penjajah.

Sederet nama seperti Ong Tong King, Aci, Lim Tjin An, serta Hwang Hwa Sing dulunya adalah beberapa pejuang Tionghoa yang ikut merebut kemerdekaan.

Mereka adalah pejuang tanpa tanda jasa yang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa.

“Lama tinggal di Indonesia membuat kami mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Kami ini juga orang Indonesia, jadi kami mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lainnya,” tutur Maslan.

Dia berharap, pada perayaan Imlek tahun ini semua pihak dapat hidup berdampingan dengan damai.

Tak ada lagi diskriminasi yang terjadi akibat perbedaan suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA). Kenangan buruk di masa lalu harusnya menjadi sebuah pelajaran bagi semua pihak.

Maslan pun mengatakan bahwa Imlek ini bukan perayaan agama tertentu, sehingga bisa dirayakan dengan penuh suka-cita bagi semua orang.

“Imlek ini tradisi, di tanah Tiongkok sana digelar untuk menyambut datangnya musim semi. Semua orang bergembira saat Imlek. Semua bersemangat, hal ini disimbolkan dengan seluruh pernik Imlek yang berwarna merah,” tutupnya. (*/roe/che/k1)

Categories: Berita / News | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: