News of Day : Nasionalisme Tak Bertentangan

Jakarta, Kompas – Nasionalisme Indonesia sesuai dan tidak bertentangan dengan agama. Bahkan, Islam dan agama lain di Indonesia telah berperan penting dan menjadi tulang punggung pergerakan serta pembangunan keindonesiaan sejak tahun 1910.

”Nasionalisme Indonesia memberi tempat yang terhormat kepada agama, Pancasila, dan UUD 1945,” tegas Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra. Pernyataan itu disampaikan Azyumardi saat berbicara dalam diskusi ”Menyegarkan Kembali Paham Kebangsaan” yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Senin (20/12) di Jakarta.

Namun, lanjut Azyumardi, keharmonisan antara nasionalisme dan agama tetap perlu dijaga dan terus dikembangkan. Hal itu karena ada sejumlah hal yang dapat menurunkan semangat nasionalisme, seperti meningkatnya globalisme politik, budaya, sosial, dan informasi. Penyebaran gerakan dan gagasan transnasionalisme, yang menganjurkan universalisme politik agama, juga dapat menyebabkan turunnya nasionalisme.

Yudi Latif, Direktur Eksekutif Reform Institute, menambahkan, sejarah menunjukkan bahwa Indonesia sudah lama menjadi titik temu dari berbagai budaya. Namun, setiap budaya luar yang masuk ke Indonesia selalu mengalami nasionalisasi atau proses penerimaan dengan budaya setempat.

Untuk itu, lanjut Yudi, jika ada yang mengatakan bahwa seseorang memeluk agama tertentu, maka juga dapat disebut bahwa orang itu atau Indonesia telah menerima agama tersebut.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menuturkan, mereka yang menyimpang dari paham kebangsaan sebenarnya bukan orang bodoh. ”Sikap dan perilaku kita saat ini juga diwarnai dengan berbagai intrik dan fitnah,” ujar Idrus.

Pada saat yang sama, karya dan prestasi juga belum menjadi ukuran hak seseorang dalam memimpin. Akibatnya, ada pemimpin seperti bupati dan gubernur yang kinerjanya belum memuaskan karena sebelumnya mereka tidak memiliki prestasi dan karya.

”Seharusnya, yang berhak memimpin adalah yang memiliki karya dan prestasi. Karena patokannya karya dan prestasi, maka tawarannya harus berupa ide dan gagasan,” ujar Idrus. (NWO)

Categories: Berita / News, Harkitnas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: